Sabtu, 31 Januari 2015

Ibu

Bidadari keluargaku..
Aku sudah tidak pernah mendengar kabarmu...
sudah 4 tahun lebih..
Aku tak mengenal lagi pelukan hangat dalam kedinginan..
Desah napasnya yang sangat hidup itu mulai sirna..
Kesejukan dikala lelah tak akan kujumpai..
Aku mulai paham seiring dengan kedewasaanku..
Senyuman itu  tak akan pernah kembali..
Tak kan pernah sama. Tidak akan..
Bidadari keluargaku sudah pergi..
Jauh... meninggalkanku.. Selamanya..
Tekadku..
Tanpa kesaksiannya..
Aku harus terus maju..
Tanpa kesaksiannya..
Aku tetap bisa..
Walau setiap detik ,
aku merindukan semuanya..
IBU... AKU MENCINTAIMU
 
~Miftakhul Islamiyah~

Tegar Dalam Semu

Aku sadar , aku mengerti..
Langkah cintaku memang semu..
Tak nampak , tak terlihat..
Sampai saat ini rasa ini belum berbalas..
Entah hanya sampai esok , atau bahkan selamanya?
Aku masih kuat , masih tegar , masih bertahan..
Dalam ingkar hati yang semakin terbolak-balik,
Terombang-ambing kecemburuan..
Semakin hari semakin tumbuh..
Tumbuh subur , tiga kali lipatnya...
Perasaan yang tidak nyata , namun apakah hanya sekedar perasaan..?
Perasaan yang seolah buta saat candamu hanya hadir untuknya..
Gelap , petang saat kau dengannya..
Terang saat kita bercanda. 
Seolah menjadi obat untuk lukaku..
Aku  bingung mengapa perasaan itu semakin subur tumbuhnya..
Kian kokoh, dan menikam hatiku semakin kuat..
Sungguh tak terbantahkan...
Aku mengagumimu, mencintaimu. Sungguh!!!
Tidak akan bisa menepi sama sekali...
Api cemburu itu membakar habis.. 
Leleh sudah. 
Apa kau mengerti?


~Miftakhul Islamiyah~

Jumat, 30 Januari 2015

31 Januari 2015 (Kisah)

     Gerimis, menimpa para ciptaan di bumi. Semakin deras, sangaaat deras. Air mataku juga, menetes kian derasnya. Hancur, remuk, sangat tidak berbentuk. Tidak berupa sama sekali.
   Awal kehidupan baruku, dia datang dengan sejuta pesona. Pesona yang ku idam-idamkan. Dia orang yang sangat mengagumkan. Dia hadir saat aku benar-benar sangat terpuruk. Sedih, hilang harapan dalam segala kisah cintaku, kisah cinta yang semu, ranum, dan tak pernah nyata.
   "Assalamu'alaikum." sapanya dengan lebar senyum yang dia pancarkan. Memesona, menenangkan, menyejukkan dan pandangan matanya semakin lama semakin menentramkan keresahanku, sangat menentramkan.
   Hari berikutnya, dia kembali menyapaku, sapa yang mengawali segalanya, walaupun hanya melalui via SMS. Sapaan yang kian hari selalu menjadi kebutuhanku, aku butuh sapaan itu, sangat membutuhkan. Dia yang selalu ada saat semua terasa sepi, tanpa suara, macam malam yang mendekap erat kehidupanku. Sunyi. Sepi. Sendiri.
   Perlahan, rasa takut itu hadir, takut kehilangan, takut esok atau bahkan 5 menit kemudian dia menghilang. Perasaan apa ini? Perasaan yang lain, gemetar dengan perhatian yang dia beri, aku terpikat, sifatmu amat memesona.

                             "Aku ingin kisah cinta ranumku tak kembali sejak mengenal kau"
**
     Aku merindukan ini semua.
     "Hey! Kamu kemana?" sapaan singkat dengan segala kekhawatiran saat aku tidak dengannya.
     "Maaf, ini masih trouble. SMS ku dari tadi belom masuk."
     "Iya iyaa."
   Pesan singkat yang selalu kunantikan. Kerinduanku semakin menjadi sekarang. Entah hanya sekedar rindu ataupun lebih. Aku sangat rindu, semua yang ada padanya sangat kurindukan. Suara, tatap matanya, senyumnya. Menyejukkan, aku rindu. Esok aku akan menemuinya, berharap jantungku tak akan berdetak semakin kencang. "Jangan kaku ya, kalau ketemu aku..!" itu yang seringkali dia lontarkan.
     Sepulang sekolah. Hari ini aku akan menemuinya, salah satu cafe di kota kecil ini akan menjadi tempat yang musti dihampiri. Pertama kalinya dalam sejarah, aku keluar dengan cowok, sebelumnya tidak pernah. Dia menemuiku. Jujur, senyuman dan sapaan itu yang sangat hangat di tengah rinai yang sejak satu jam tadi menimpa ku. 
       "Kaku banget ya?" dia mulai memecahkan keheningan, gagap yang semakin menjadi.
       "Nggak kok, biasa loh!" jawaban yang sangat bohong, aku hanya sekedar menutupinya.
       "Keliatan kok dari sorot matamu.. :-)" dia sangat memerhatikannya, sorot mata yang benar-benar kaku. Aku tak pernah sekaku itu, ini sangat kaku!
     30 menit berjalan, kekakuan itu sirna. Aku banyak bertanya banyak hal padanya, dia juga, bertanya dengan hal yang hampir sama, hampir semua tentang masa laluku dan dia. Mantan kekasih, orang yang pernah dekat, semua kita bahas. Aku membahas Cn. Dia hanya tersenyum, lalu tertawa lebar. Dia membicarakan mantan kekasihnya, aku hanya tersenyum kecil.
     *Cn, orang yang 3 bulan lalu hingga saat ini sangat kukagumi, bahkan menyayangi, tapi percuma, aku tau dia menyayangi orang lain, yang jauh lebih dariku.
****
         Biarlah semua berlangsung tanpa dimengerti, akan kubuat semua seperti teka teki, aku tak mau menikam hatiku, atau sama saja aku membiarkan rasa itu akan tumbuh dua kali lipatnya. 
         Aku akan mengetahui suatu saat nanti, kisah apa yang akan terjadi. Sedih ataukah gembira. Pintu hatiku akan terbuka ataukah tidak semua akan terjadi, akan kucoba memahami semua, memahami sendiri, menerka perasaanku sendiri. Suatu hari aku akan kembali dengan yang terjadi.
"Aku sadar, aku mengerti kisah cintaku memang semu, tak nampak, tak terlihat.. Sulit ditebak. Sangat sulit, hingga rasa takut itu hadir, takut dengan ketidakpastian, makin hari kian menikam."



~Miftakhul Islamiyah~

Dapatkah kau dengar itu?


Tidak tahu berapa lama itu..

Bahwa aku harus menyembunyikan segala sesuatu..

Menyembunyikan semua kebenaran di hatiku

Setiap kali kita bertemu..

Setiap kali kumemandangmu..

Aku hanya berpura-pura bertahan..

Tahukah kau betapa aku menahan diriku?

Dapatkah kau dengar itu?

Hatiku...

Memberitahumu bahwa aku mengagumimu..

Tapi aku tak bisa mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya...

Bisakah kau dengar itu?

Hatiku...

Menanti kau membukanya..

Hanya dapat berharap kau akan mengetahuinya...

Suatu hari..

Meskipun aku mengagumimu, atau bahkan mencintaimu..

Walaupun aku merasakannya...

Tetapi jauh didalam tidak cukup berani...

~Miftakhul Islamiyah~

Kamis, 29 Januari 2015

29 Januari 2015

Bintang terang...

Akankah aku berdiri setegar engkau?

Bukan dalam gantungan yang sendiri di tengah malam,

dan memandang dengan bibir terbuka,

layaknya pasien alam yang terbaring tanpa pernah tidur

namun tidur di atas payudara cinta sejatiku yang ranum

merasa untuk selamanya

dalam keterjagaan nan manis...

Masih saja aku mendengar desah napasnya,

yang lembut,dan begitu hidup

Masih hidup? Ataukah pingsan sampai mati?


~Miftakhul Islamiyah~