Gerimis, menimpa para ciptaan di bumi. Semakin deras, sangaaat deras. Air mataku juga, menetes kian derasnya. Hancur, remuk, sangat tidak berbentuk. Tidak berupa sama sekali.
Awal kehidupan baruku, dia datang dengan sejuta pesona. Pesona yang ku idam-idamkan. Dia orang yang sangat mengagumkan. Dia hadir saat aku benar-benar sangat terpuruk. Sedih, hilang harapan dalam segala kisah cintaku, kisah cinta yang semu, ranum, dan tak pernah nyata.
"Assalamu'alaikum." sapanya dengan lebar senyum yang dia pancarkan. Memesona, menenangkan, menyejukkan dan pandangan matanya semakin lama semakin menentramkan keresahanku, sangat menentramkan.
Hari berikutnya, dia kembali menyapaku, sapa yang mengawali segalanya, walaupun hanya melalui via SMS. Sapaan yang kian hari selalu menjadi kebutuhanku, aku butuh sapaan itu, sangat membutuhkan. Dia yang selalu ada saat semua terasa sepi, tanpa suara, macam malam yang mendekap erat kehidupanku. Sunyi. Sepi. Sendiri.
Perlahan, rasa takut itu hadir, takut kehilangan, takut esok atau bahkan 5 menit kemudian dia menghilang. Perasaan apa ini? Perasaan yang lain, gemetar dengan perhatian yang dia beri, aku terpikat, sifatmu amat memesona.
"Aku ingin kisah cinta ranumku tak kembali sejak mengenal kau".
**
Aku merindukan ini semua.
"Hey! Kamu kemana?" sapaan singkat dengan segala kekhawatiran saat aku tidak dengannya.
"Maaf, ini masih trouble. SMS ku dari tadi belom masuk."
"Iya iyaa."
Pesan singkat yang selalu kunantikan. Kerinduanku semakin menjadi sekarang. Entah hanya sekedar rindu ataupun lebih. Aku sangat rindu, semua yang ada padanya sangat kurindukan. Suara, tatap matanya, senyumnya. Menyejukkan, aku rindu. Esok aku akan menemuinya, berharap jantungku tak akan berdetak semakin kencang. "Jangan kaku ya, kalau ketemu aku..!" itu yang seringkali dia lontarkan.
Sepulang sekolah. Hari ini aku akan menemuinya, salah satu cafe di kota kecil ini akan menjadi tempat yang musti dihampiri. Pertama kalinya dalam sejarah, aku keluar dengan cowok, sebelumnya tidak pernah. Dia menemuiku. Jujur, senyuman dan sapaan itu yang sangat hangat di tengah rinai yang sejak satu jam tadi menimpa ku.
"Kaku banget ya?" dia mulai memecahkan keheningan, gagap yang semakin menjadi.
"Nggak kok, biasa loh!" jawaban yang sangat bohong, aku hanya sekedar menutupinya.
"Keliatan kok dari sorot matamu.. :-)" dia sangat memerhatikannya, sorot mata yang benar-benar kaku. Aku tak pernah sekaku itu, ini sangat kaku!
30 menit berjalan, kekakuan itu sirna. Aku banyak bertanya banyak hal padanya, dia juga, bertanya dengan hal yang hampir sama, hampir semua tentang masa laluku dan dia. Mantan kekasih, orang yang pernah dekat, semua kita bahas. Aku membahas Cn. Dia hanya tersenyum, lalu tertawa lebar. Dia membicarakan mantan kekasihnya, aku hanya tersenyum kecil.
*Cn, orang yang 3 bulan lalu hingga saat ini sangat kukagumi, bahkan menyayangi, tapi percuma, aku tau dia menyayangi orang lain, yang jauh lebih dariku.
****
Biarlah semua berlangsung tanpa dimengerti, akan kubuat semua seperti teka teki, aku tak mau menikam hatiku, atau sama saja aku membiarkan rasa itu akan tumbuh dua kali lipatnya.
Aku akan mengetahui suatu saat nanti, kisah apa yang akan terjadi. Sedih ataukah gembira. Pintu hatiku akan terbuka ataukah tidak semua akan terjadi, akan kucoba memahami semua, memahami sendiri, menerka perasaanku sendiri. Suatu hari aku akan kembali dengan yang terjadi.
"Aku sadar, aku mengerti kisah cintaku memang semu, tak nampak, tak terlihat.. Sulit ditebak. Sangat sulit, hingga rasa takut itu hadir, takut dengan ketidakpastian, makin hari kian menikam."
~Miftakhul Islamiyah~