Sejuta tetes embun sedari tadi bersandar diatas daun kian tebalnya. Gemercik air sungai, mengalir menabrak batuan sungai dengan kerasnya. Sorot mentari dengan kilau yang menerobos jendela kamarku. Aku membuka mataku perlahan, menghampiri jendela dan membukanya, membiarkan sang mentari lolos untuk menerangi ruang pribadiku. Kulihat handphoneku yang sedari tadi menyala.
“Hey! :D” sapanya ramah melalui pesan singkat yang dia kirimkan.
***
Dia, laki-laki manja, dengan berpuluh pesona, pesona sebuah senyuman yang seolah memaksa hatiku untuk kian berdesir. Pesona sosok idamanku ada padanya. Senyuman yang menentramkan. Sudah dua minggu ini kita saling berbalas pesan singkat, sapaan, salam, saling sharing, dia amat menyenangkan.
Semua berawal dari pertemuan yang tak pernah kurencanakan sebelumnya, ini semua skenario Rabb-ku. Mengagumkan. Aku tertarik oleh sifatnya yang setiap saat ada dalam tiap-tiap urusan hatiku. Bahkan perhatian yang dia beri kian ekstrim. Perhatian yang membuatku merasa nyaman.
***
Satu bulan berlalu..
Gerimis ini terus menimpaku, cuaca yang belum bisa menjadi teman baikku hingga saat ini. Sama halnya dengan hatiku, triliunan desir rindu yang masih terus berkerumun. Argh... aku belum pernah melihat triliunan desir rindu itu, namun yang pasti, aku bisa merasakannya. Menyesakkan sekali bila kalian merasakannya. Aku sangat merindukan dia.
Nyanyian rindu serasa terhenti saat kulihat dia kini hadir didepan mataku. Langkahnya terus mengarah padaku, menghampiriku yang sedang melamun di atas batuan sungai yang hanya berjarak kurang lebih 3 meter sebelah barat rumahku. Mengarah padaku? Yang benar saja?
“(Duduk di sampingku) Ngelamun terus! Kenapa?” sapanya. Kerinduan padanya sirna sudah, karena dia kini disini denganku.
“Nggak Gun, cuma main air kok. Kamu kenapa kemari Gun? Kok tumben?” jawabku mengalihkan pembicaraan.
“Tadi aku main ke rumahmu. Kata Om Ganang kamu ke sungai. Kamu udah disini dari tadi?” jawabnya. Setengah lingkar bibirnya menebar senyum. Ada sebuah asa pada senyumnya, asa untuk membuatku bangkit dari kata menyerah.
“Iya, Gun! (Diam sejenak) Gun, aku mau ngomong.”
“Iya, Ter! Ngomong apa?”
“Gun, sejak kita deket sebulan ini, aku pengen ngerti sejauh mana sih kita. Ehhh.. Pacar? Jelas-jelas bukan,” gumamku.
“Dari tadi kamu ngelamun itu Ter? (tersenyum heran) Aku sayang kamu, Ter, tapi kita nggak lebih dari sekedar temen, aku takut nyakitin kamu Ter! Aku emang cemburu waktu kamu bicara soal Ken, tapi aku nggak berhak Ter..!” jelasnya sangat meyakinkan. Tapi alasan itu sangat tidak bisa kupahami, aku masih saja bertanya-tanya, kenapa?
“Iya Gun. Aku udah terlanjur nyaman, nyamaaan banget, tapi aku nggak boleh keterlaluan kan Gun? Aku musti mikir sekolahku, masa depanku, walaupun aku nggak ngerti gimana masa depanku (aku menitihkan air mataku)” Agun tiba-tiba jongkok didepanku. Menatapku.
“Maaf, Ter! Buat sekarang aku nggak bisa ngasih kamu kepastian, aku sejam lagi terbang ke Palembang melanjutkan sekolahku. Maaf untuk semuanya Ter. Kalo Allah berkehendak, aku bakal balik kok Ter. Moga kamu masih istiqomah Ter,” jelasnya dengan segala harapannya.
“Iya Gun, aku istiqomah kok. Asal kamu juga, kita sama-sama meraih cita-cita ya Gun! Moga Allah hanya memberi kita jarak sebagai nikmat, mungkin ini rencana Allah untuk mendekatkan kita dengan kesuksesan. Semoga!!” jawabku bersamaan dengan pengharapanku.
***
Tahun ini aku lulus SMA dua tahun lebih lambat dari dia, karna dia mengambil kelas akselerasi sewaktu SMP dan SMA. Aku mengambil jalur bidik misi untuk melanjutkan pendidikanku di bangku kuliah, di Palembang, ternyata universitas kita sama. Aku tidak menyangka sama sekali, ini tidak pernah kusengaja.
Dua minggu setelah pengumuman itu, aku berangkat ke Palembang, aku tidak menghubungi dia aku tidak mau mengganggunya. Tiba di Palembang, saat aku sedang di dalam taksi menuju universitas, tiba-tiba dia menelfonku. Dia memberitahuku dengan kesibukan barunya sebagai penulis, satu novel telah dia buat, judulnya, Karena Kau Makmumku. Dua minggu lalu dia pernah mengirim buku karangannya padaku, ini cetakan yang khusus untukku katanya, karena pada lembar terakhir ada selembar kertas cetakan pabrik yang berisi ungkapan perasaannya.
“Lembar terakhir kubuat khusus untuk kau. Hai kau.. saat kau kutinggal pergi, jilbab merahmu menutup penuh rambutmu. Dua tahun ini kau kubiarkan memendam rindumu. Mencekik batin kian kuatnya. Sebongkah rasa rindu yang sama-sama kurasakan. Ayahmu memberitahuku bahwa kau akan mengambil program bidik misi ke Universitas yang sama denganku. Hai kau.. Bolehkah aku meminta sepucuk hatimu? Mengapa yang kuminta hanya sepucuk? Karena aku mengerti, seluruh hatimu terisi cinta yang sangat dalam pada Rabb-mu, dan sepertiga hatimu untuk Ayah & Ibumu. Aku menyayangimu karena Rabb-ku. Aku mencintaimu, aku ingin kita bahagia, di dunia dan Surga-Nya. Aku ingin mengurangi beban Ayahmu, dan ikut serta membimbingmu ke Syurga. Semoga kau tetap istiqomah dengan hatimu. Dengan hati yang terus mempertahankan agama Allah. Aku ingin kau menjadi makmumku. Saat kau dan aku sudah benar-benar siap nanti, biarkan aku dan keluargaku menghampiri orang tuamu. Bersabarlah dan teruslah Istiqomah. Aku tahu kita harus terus memantaskan diri di hadapan Allah. Percayalah!!!”
Pada akhirnya buah kesabaran itu benar-benar muncul. Sebuah sikap istiqomah yang berujung sangat manis.
“Cukuplah! Dengan kau beristiqomah terhadap Allah. Segala urusan yang kau ingin capai pada akhirnya benar-benar berakhir dengan ending terbaik yang Allah ciptakan untuk kita. Yakinlah.. Walaupun kita tak akan pernah tahu jalan hidup kita. Tetaplah beristiqomah!!!”
MIFTAKHUL ISLAMIYAH
-----------
Tulisan ini harap diambil sisi positifnya, hanya sebuah karangan dan coretan, judul novel yang tertera, belum benar-benar ada.
Jumat, 27 Februari 2015
Senin, 09 Februari 2015
Untuk Imamku di masa depan :D
Bismilllaah..
Assalammualaikum warrahmatullaahi wabarakatuh
Wahai Imamku di masa depan, apa kabarnya kau di sana?
Masihkah semangat berjuang untuk menemuiku?
Meskipun kau masih rahasia bagiku,
Namun aku begitu mencintaimu,
Dan aku di sini tak pernah kenal kata “lelah” dan
“menyerah” untuk senantiasa mencari ilmu,
Memantaskan diri di hadapan Allah,
kuharap kau pun begitu.
Wahai Imamku di masa depan, apa kabarnya kau di sana?
Masihkah semangat berjuang untuk menemuiku?
Meskipun kau masih rahasia bagiku,
Namun aku begitu mencintaimu,
Dan aku di sini tak pernah kenal kata “lelah” dan
“menyerah” untuk senantiasa mencari ilmu,
Memantaskan diri di hadapan Allah,
kuharap kau pun begitu.
Aku belajar banyak hal agar nanti suatu saat jika
Allah sudah menentukan waktunya,
Kita akan bertemu.
Dan saat itu, aku sudah benar-benar siap untuk
berjuang di jalan dakwah bersamamu,
Membela agama Allah.
Mendidik calon mujahid dan mujahidah kecil kita sepenuh hati.
Membangun keluarga yang penuh cinta.
Dan bersama membangun istana di surga.
Allah sudah menentukan waktunya,
Kita akan bertemu.
Dan saat itu, aku sudah benar-benar siap untuk
berjuang di jalan dakwah bersamamu,
Membela agama Allah.
Mendidik calon mujahid dan mujahidah kecil kita sepenuh hati.
Membangun keluarga yang penuh cinta.
Dan bersama membangun istana di surga.
Wahai imamku,
Aku sadar, diriku jauh dari sempurna.
Aku memang bukan Siti Khodijah, tapi aku belajar setia darinya.
Bukan pula Siti Asiyah, tapi aku belajar bersabar darinya.
Aku bukanlah Siti Aisysah, tapi aku belajar ikhlas darinya.
Dan bukanlah Fathimah binti Muhammad, tapi aku belajar tabah darinya.
Aku sadar, diriku jauh dari sempurna.
Aku memang bukan Siti Khodijah, tapi aku belajar setia darinya.
Bukan pula Siti Asiyah, tapi aku belajar bersabar darinya.
Aku bukanlah Siti Aisysah, tapi aku belajar ikhlas darinya.
Dan bukanlah Fathimah binti Muhammad, tapi aku belajar tabah darinya.
Kau tahu wahai imamku? Aku sangatlah pencemburu.
Semoga kita senantiasa dapat menjaga hati kita selagi berjauhan.
Bersabarlah.
Yakinlah, Allah pasti mempertemukan kita.
Jika memang bukan dunia ini tempat pertemuan kita,
Insya Allah kita akan bertemu di Jannah-Nya kelak.
Semoga kita senantiasa dapat menjaga hati kita selagi berjauhan.
Bersabarlah.
Yakinlah, Allah pasti mempertemukan kita.
Jika memang bukan dunia ini tempat pertemuan kita,
Insya Allah kita akan bertemu di Jannah-Nya kelak.
Semangatlah duhai kasihku, aku selalu menunggumu
Salam sayang,
Istri masa depanmu
Salam sayang,
Istri masa depanmu
Saleha Is Me
Langganan:
Postingan (Atom)